Chalabi Charcoal secara rutin melakukan pengiriman produk briket arang ke Australia. Aktivitas eksport briket arang tersebut ditujukan untuk kebutuhan retail dan komersil dari berbagai kalangan konsumen.
Mayoritas briket arang yang diekspor ke Australia digunakan untuk kebutuhan panggangan makanan. Hal tersebut menjadi salah satu sektor dengan kebutuhan sangat tinggi di negara kangguru tersebut.
Permintaan briket arang di Australia hadir dari kebutuhan pemanas makanan. Konsumsi briket arang di negara tersebut sangat tinggi. Hal tersebut tidak lepas dari budaya memasak makanan dengan metode memanggang yang merupakan hal lumrah di negara tersebut.
Di sisi lain, arang batok kelapa merupakan media pemanas terbaik yang hadir untuk kebutuhan tersebut. Aspek kebutuhan dan pasokan tersebut menjadi hal yang sangat cocok menjadi ruang kolaborasi ekonomi kedua kultur Australia dan Indonesia.
Briket arang Chalabi Charcoal merupakan opsi terbaik yang hadir untuk kebutuhan pemanas. Beberapa aspek berikut menjadi keunggulan utama produk arang briket Chalabi Charcoal.
Briket arang Chalabi Charcoal menggunakan bahan baku arang batok kelapa terbaik yang disortir secara ketat. Bahan yang digunakan merupakan material layak produksi.
Arang batok kelapa merupakan opsi terbaik yang dapat menghasilkan panas konsisten serta stabil untuk berbagai kebutuhan. Setiap bahan yang digunakan juga dipastikan kebersihan dan ukurannya untuk mendapatkan bentuk dan kekuatan produk yang optimal.
Briket arang batok kelapa produksi Chalabi Charcoal melalui proses yang kompleks mulai dari penyediaan bahan, produksi, pemanasan hingga 48 jam, uji kualitas, serta pengemasan dan penyimpanan.
Setiap tahapan memiliki standar operasional yang ketat dan terdokumentasi dengan baik.
Uji Kelayakan
Setiap produk Chalabi Charcoal yang dirilis ke pasar merupakan briket arang terbaik yang telah memenuhi uji kelayakan. Terdapat berbagai pengujian yang melibatkan ketahanan bentuk, durasi pembakaran, kadar abu, kadar air, dan lain sebagainya.
Produsen Indonesia masih menjadi pemenuh pasokan terbesar untuk kebutuhan briket arang di seluruh dunia. Bahan baku, proses, dan kualitas produk akhir menjadi nilai jual utama produk briket arang dari Indonesia.
Meski begitu, proses ekspor briket arang dari Indonesia ke negara lain tidak juga menjadi sangat mudah. Pasalnya terdapat beberapa faktor keamanan yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan kegiatan ekspor briket arang.
Briket arang merupakan produk yang sangat sensitif pada panas dan api. Hal tersebut dapat memicu kondisi pembakaran sendiri pada pengiriman ekspor briket arang. Situasi tersebut dapat berdampak pada kebakaran kontainer pengangkut hingga jatuhnya korban jiwa.
Untuk menurunkan dan menghindari risiko, terdapat prosedur kualifikasi dan pemantauan yang dilakukan. Pemantauan tersebut berkaitan dengan proses produksi dan perangkat keamanan.
Audit terhadap produsen dilakukan melalui beberapa proses menurut waktu yang berbeda, antara lain audit primer, audit pengawasan pabrik, dan inspeksi sebelum pengiriman.
Audit primer dilakukan setiap tiga tahun dan audit pengawasan dijalankan setiap tahun pada rentang audit primer berlangsung.
Sementara inspeksi sebelum pengiriman dilakukan untuk setiap kontainer brang yang mengirimkan barang. Dalam prosesnya, terdapat tiga indikator yang dapat diterima sebuah produsen briket.
Status “Diterima” menandakan tidak terdapat masalah serius pada produsen dan perusahaan terverifikasi untuk mengirim produk. Sementara status “Tidak Diterima” menandakan terdapat masalah minor di perusahaan.
Perusahaan dengan status “Tidak Diterima” memiliki waktu tiga bulan untuk mengajukan tinjauan ulang. Sementara status “Ditolak” menandakan terdapat masalah mayor dan ketidakpatuhan perusahaan. Dengan status tersebut, perusahaan tidak dapat mengekspor produk.
Selain audit yang dilakukan untuk produsen, aktivitas ekspor produk briket arang juga memerlukan vanning survey. Aktivitas ini menerapkan sejumlah indikator yang berlaku untuk keamanan saat proses pengiriman produk briket.
Vanning survey memastikan produk briket yang dikirim memenuhi standar keamanan dan memiliki informasi yang lengkap atas risiko. Pada dasarnya, hal tersebut menjadi pedoman utama tim logistik dalam mengirimkan barang. Adapun vanning survey akan membutuhkan dokuemn berikut ini.
Pada komponen di atas, terdapat dokumen yang dikenal sebagai material safety data sheet atau MSDS. Dokumen tersebut merupakan referensi data barang atau produk dengan kandungan bahan kimia. Meski tidak mutlak, namun bahan kimia memiliki risiko tertentu.
Beberapa bahan kimia memiliki sifat beracun, mudah terbakar, dapat meledak, dan properti berbahaya lain. Hal tersebut akan mendapat perhatian serius apabila kandungannya dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan manusia.
Dokumen MSDS menjadi identitas penanda barang dan risiko tersebut. Di dalam dokumen MSDS, terdapat petunjuk dan informasi bahan kimia yang terkandung dalam suatu barang.
Informasinya juga dilengkapi dengan bahaya yang ditimbulkan, cara penanganan, tindakan khusus, serta informasi lain yang dibutuhkan. Adapun data yang terdapat dalam MSDS adalah sebagai berikut.
Dalam dokumentasi MSDS, umumnya acuan yang digunakan adalah penetapan pada Globally Harmonized System. Sistem yang dikenal dengan GHS tersebut merupakan salah satu pedoman universal dalam klasifikasi bahan kimia dan risiko bahaya yang dapat ditimbulkan.
Selain dokumen MSDS, terdapat dokumen Sertifikat Uji Pemanasan Sendiri. Dokumen tersebut bisa didapatkan setelah melalui serangkaian uji pemanasan. Prosesnya berlangsung sekitar tujuh hari kerja dengan kebutuhan 2 kilogram sample uji dari laboratorium yang melayani.